Panci di atas Bara

Panci di atas Bara

IMG_20150517_125851
Gonjangan dalam hidup itu biasa asal tidak lupa pergi piknik saja. Ini adalah terusan Kamang yang berada di Bukittinggi Sumatera Barat.

Awalnya ketika saya datang ke kota ini, saya bahkan belum menyadari bahwa Tan Malaka juga lahir di kota yang sama. Pengetahuan sejarah saya memang payah, tapi saya tahu bahwa saya datang ke tempat di mana masakan Padang berasal. Masakan kesukaan saya semasa sekolah di Malang.

Lima tahun yang lalu, ini benar-benar tidak berguna, bahkan saya baru ingin mencatatnya sekarang. Hanya karena saya menunggu untuk bisa tidur, tapi kantuk tak kunjung datang, dan besok kalender berwarna merah. Setelah pukul sepuluh malam, saya malah tidak mengantuk sama sekali. Sugesti karena besok bisa bangun siang, dan memulai hari dengan lebih malas. Sindrom mental pekerja yang setiap harinya tidur sebelum jam sepuluh, hanya karena ingin dapat bangun pagi dan memulai hari dengan segar. Maklum menjadi sales panci yang baik harus tampak cerah dan ceria, membawa suasana riang di mana pun berada.

Lima tahun yang lalu, hampir pukul satu dini hari. Seorang teman sudah menunggu dan mengajak makan malam. Kebalikannya: menu pertama yang saya nikmati justru masakan Jawa. Pecel lele Lamongan. Saya pergi jauh dan segera sampai di rumah di sini tempatnya. Di kemudian hari saya baru tahu, hanya orang sekampung saya seperti ini yang tetap buka lapak jauh sampai dini hari. Perantau harus tangguh sejak semula.

Kota ini kecil saja, kota yang asyik untuk menepi. Menjauh dan memulai segala sesuatunya dari halaman pertama. Saya pasti akan segera menemukan kitab kecil yang sedang saya cari selama ini. Tempat baru di mana tak seorang pun saya mengenal dan tak mengenali diri saya. Benar-benar sempurna. Semua bisa ditulis kembali. Saya merasa akan lama dan betah tinggal di sini. Udara dan suasana benar-benar mudah untuk disukai. Kecil dan hening, tapi cukup memadai untuk menenteng panci pada pagi hari dan berkurang dua tiga buah pada sore harinya.

Saya dengan cepat menyesuaikan diri, menjadi orang baru dan menerima hal-hal baru. Beberapa bulan kemudian Dini dan Magda, istri dan anak saya menyusul. Dan juga ibu saya. Kami tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Benar-benar mulai segalanya dari permulaan kembali.

Setahun kemudian setelah berkunjung ke kampung istri saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi. Ini sesuatu yang baik buat dirinya, dia masih sangat muda, dan bisa belajar adalah kesempatan terbaik yang berhak dia dapatkan. Tiga tahun rasanya singkat sekali. Rasanya saya selalu kosong jika mengenang hal yang lewat itu. Hanya sekelebat saja. Dia lulus dengan cepat. Dan saya merasa betah-betah saja tinggal di sini. Konon waktu berjalan singkat jika kita hidup bahagia, mungkin kalimat itu ada benarnya. Hidup kami indah dan bahagia di kota kecil ini.

IMG_20150219_105554
Di antara tiga hal yang paling saya cintai: Kalian berdua, Magda dan Ibunya, Batu dan Pasir, dan Waktu sengang yang tenang.

Anak saya tumbuh dan saya masih selalu tak percaya setiap pagi dia tumbuh begitu cepat. Saya tak ingin percaya bahwa saya sudah memiliki anak gadis sebesar itu. Dia sangat berarti dan membuat hidup kami penuh kegembiraan setiap hari sepanjang tahun. Benar saya tak melebih-lebihkan, begitulah yang saya rasakan. Jika kamu mempunyai seorang anak gadis dan kamu tinggal di kota yang kamu sukai pasti kamu akan mudah percaya dengan yang saya bilang baru saja.

(Mau nulis apa ya saya dengan judul di atas, mungkin salah judul kali ya?! Mungkin pamer kebahagiaan lebih cocok kali.) 

Kantuk tak kunjung datang. Di rumah yang sudah dua tahun terakhir, kami tinggal. Kami sudah pindah tiga kali selama lima tahun. Ibu saya membuat ayunan dan bercocok tanam sayur mayur di dalam pot. Dan saya menanam stroberi, tanaman perdu yang berbuah yang seharusnya manis. Tapi di halaman rumah ini sering kali masam, karena dipetik begitu berbuah dan belum sempat masak benar. Masam di buah tapi manis di kami yang menikmatinya. Hidup dengan mudah bisa kami syukuri dan kami nikmati.

Sebagai seorang sales panci, pekerjaan saya ini benar-benar mudah dan tak terlalu sulit. Hampir-hampir mustahil dan durhaka jika saya tak merasa seperti itu. Dari berjualan panci, saya menanak nasi sepanjang waktu dan perut terisi dengan tentram. Bahkan saya merasa heran, kenapa hidup saya semudah dan sesederhana itu. Teman saya bilang, seperti mengarungi danau kecil pada pukul tujuh pagi, ketika matahari baru datang dan kalian mendayung ke arah Selatan. Semua orang ingin seperti itu dalam hidup mereka. Melihat bayangan di dalam air yang bahagia dan lebih bahagia lagi jika itu bayangan sendiri.

Photo on 4-18-15 at 7.36 AM #2
Dua Kartini dalam hidup saya sedang mengenang Kartini di hari Kartini. Foto diambil di depan TK Pius Payakumbuh April 2015

Untuk hanya melewatkan waktu selain membaca, kegemaran saya sejak dulu, dan menonton film dan televisi, benda terakhir ini selain sepak bola sebenarnya ingin saya hindari. Seolah semua berlalu begitu saja. Begitu saja, datar tanpa goncangan dan bahagia.

Lima tahun berlalu dan sepuluh tahun semenjak saya selesai sekolah. Saya kembali gelisah ketika mengingat sebuah coretan tangan saya dulu di asrama. Untuk lima ratus lembar yang menunggu. Saya sudah sangat lama dan sebenarnya ingin memulai dari halaman pertama di kota ini. Tapi saya benar-benar tidak melakukan apa-apa. Tidak ada lembaran dan tidak ada halaman-halaman.

Sore itu saya berkunjung ke sebuah taman bermain di dekat jembatan Ratapan Ibu. Dengan anak gadis dan istri saya. Kami baru mengajarkan pada Magda bagaimana membuat perahu dari kertas, dan sore itu kami ingin melarungkan di arus sungai. Kebahagiaan ini sangat berarti dan hasrat saya terhadap lembaran itu juga harusnya tidak padam. Saya selalu menginginkannya, tapi justru menguburnya dalam dan lupa meniupkan roh pertama. Bebaskan Aku dari Mantramu, tampaknya akan tersimpan rapi dan tak pernah muncul di dunia ini. Saya cukup yakin itu, kegelisahan saya akan berlalu. Saya berharap mampu tetap diam dan bahagia dengan yang seperti ini saja.

Minangkabau airmu manis dan dahagaku terhapus. Buat saya lupa dan terbebas. Menguburnya dalam-dalam di sini dengan halaman kosong. Mudah-mudahan demikian! Kitab kecil itu tengelam.

Payakumbuh, 1 Juni 2015

Tujuh Jalan

Tujuh Jalan

IMG_20150219_104632

 

“Kau akan selamanya pergi.”*

–Arkeologi, 2000

1. Jika yang jauh itu dapat ditempuh, dan merupakan salah satu tujuan, sudah barangtentu, aku akan pergi. Bukan aku yang membutuhkan, tapi tepat sekali jika disebut takdir! Takdir yang akan menentukan semuanya. Menentukan kebutuhanku.

2. Aku membaca kembali halaman ke-420, bukan kebetulan jika seseorang menandainya dengan membuat garis pada kalimat yang bermakna menyimpulkan. Menyimpulkan seluruh isi buku, bahkan dalam arti tertentu, ketika aku membacanya menjelang pukul 7 pagi, menyimpulkan seluruh makna hidupku, bahkan keberadaan dunia ini. Jangan menyangka aku bersikap hiperbola, untuk memenuhi kebutuhanku atas sebentuk pengakuan, semacam sifat narsistik yang tak diperlukan. Seseorang itu aku yakin adalah jiwa seorang perempuan, seorang yang seluruh hidupnya diabdikan kepada kesia-siaan, makna tak terbantahkan akan semua hal. Termasuk bahkan kalau kau telah merasa sangat mengenal sang Kudus, pengada segala. Perempuan itu sudah pasti adalah salah satu moyangku, ia juga merancang agar aku membaca halaman ini dan kemudian menyebarkan kata-kata tak berarti ini, tapi justru kebenarannya menyala dan tak terbantahkan.

3. Hari itu turun hujan, dan dari jauh hutan tampak berkabut. Aku sedang duduk menikmati roti pangang dan segelas jus buah tomat. Udara dingin di luar, tapi cukup hangat di dalam. Aku membutuhkan asupan dari sari buah, bukan dari minuman hangat berkafein semacam kopi. Untuk selalu tampak segar, maka aku memilih jus. Aku tahu semuanya semakin jelas, bahkan aku bisa dengan mudah melihat dari mana asal-usul ikwal ini dengan melihat ke udara. Aku memulai dari sebuah pintu yang pada pukul lima sore memperlihatkan matahari yang berhati-hati tengelam. Pintu itu terbuka, dan malam memenuhi mataku. Semenjak itu aku mencari, dan di dalam pergi aku berharap sesuatu bisa ditemukan. Bukan sekedar seseorang yang lelah dan menjadi tua oleh waktu dan usia.

4. Buku itu hanya sebuah biografi yang terasa dilebih-lebihkan oleh ciri jurnalisme koran. Tapi menyangka ia berkala yang memiliki nas, dalam berbahasa. Celakanya lagi tak banyak yang tahu, itu jenis tipuan yang murahan. Mungkin karena akhir-akhir ini mulai banyak yang membaca dengan tergesa, tak sempat memaknai.

5. Ketika sampai di wilayah Selatan, aku telah mendapat tujuh buruan. Dan salah satu yang membanggakan, itu seekor kijang yang masih hidup. Ia sedang minum di tepi kali, ketika dengan sikap lembingku menghantam patah kaki depannya. Anjingku yang galak dengan mudah melumpuhkan pelariannya.

6. Di tepi kali itu kami memutuskan bermalam. Membuat api unggun, membakar daging elang. Dan dengan cepat kenyang membuat kami tertidur pulas, bahkan di tengah hutan sudah tak terdapat lagi bahaya. Kecuali sebuah mimpi yang datang dari dalam diri sendiri. Mimpi bahwa aku tak akan memiliki lagi jalan pulang.

7. Di halaman pertama, dua nama sepasang kekasih dicetak dengan huruf miring. Aku lebih senang jika kedua nama itu adalah nama kita, tapi dengan huruf yang ditebalkan dan dicetak tegak di halaman penutup. Tampaknya ini buku yang bagus, terutama karena judulnya yang baik. Gambar sampulnya indah. Daun berserak di sebuah jalan yang habis diguyur hujan. Seseorang sedang melintas tampak sebagai bayangan di dalam bingkai kaca di seberang. Bayangannya sedang berbegas pulang.

*Sajak Goenawan Mohamad