Minggu Siang dan Pikiran yang tak Mau Libur

#CatatanKecil

Anda Termasuk “Tiger Mom”?

(Saya comot tulisan ini dari kompas.com, karena ada hubungannya dengan pola asuh anak, sesuai artikel yang sebelumnya dari harian yang sama.)

KOMPAS.com – Pernah dengar nama Amy Chua? Ia adalah pengarang buku bertajuk The Battle Hymn of the Tiger Mother. Buku karangannya cukup mencengangkan dunia parenting. Di bukunya, ia menceritakan caranya mendisiplinkan kedua putrinya dengan cara yang sangat ekstrem. Dari melabeli anaknya dengan kata “sampah” karena tidak sopan di depan tamu, membuang kartu ucapan selamat ulangtahun buatan tangan anaknya karena tidak cukup bagus, melarang anaknya menginap di rumah teman, dan tidak terima jika anaknya tidak mendapat nilai “A”. Ia menerapkan aturan yang sangat ketat serta mengatur segala hal dalam kehidupan anak-anaknya. Cerita-cerita lain yang ia lakukan terhadap dua putrinya cukup menakutkan dan membuatnya mendapat julukan “tiger mom”.

Elizabeth J. Short, PhD, profesor psikologi di Case Western Reserve University, seperti dikutip dari WebMD mengungkap, “Anak-anak sangat ingin membuat orangtuanya bangga padanya, dan mereka selalu mengkhawatirkan persetujuan orangtua. Jadi, ketika peraturan terhadap anak terlalu keras, hasilnya antara anak jadi ketakutan serta sulit memutuskan sesuatu, atau ia sadar ia tak akan pernah bisa memenuhi keinginan sang ibu, hingga mereka tak pernah mau mencoba.”

Berikut ini 16 tanda orangtua berlaku terlalu keras terhadap anak:

1. Ada banyak aturan
Coba ingat-ingat, ada berapa banyak aturan yang Anda terapkan pada anak? “Banyak aturan merupakan pertanda bahwa orangtua terlalu ketat terhadap anak. Punya aturan adalah hal yang baik, tetapi jika terlalu banyak aturan dan memaksakan segalanya, bukan hal yang baik. Lebih baik buat beberapa aturan dasar lakukan dan tanamkan secara konsisten,” jelas Nancy Darling, PhD, profesor psikologi di Oberlin College.

2. Ancaman berlebihan

Mengatakan bahwa “Nanti Mama bakar semua mainan kamu” atau, “Mau Mama usir dari rumah?” tak akan berhasil karena jika si anak bilang, “Ya!” yang bisa orangtua lakukan hanya mundur dan menurunkan ancaman. Jika orangtua melakukan ancaman-ancaman yang kosong seperti itu, artinya mengajarkan anak bertingkah nakal. Saat orangtua tidak bisa mundur, dan tahu bahwa telah melakukan kesalahan, itu adalah sebuah masalah, karena anak tak akan percaya lagi apa pun yang orangtuanya katakan.

3. Aturan-aturan Anda melebihi batasan orangtua

“Orangtua bisa dan seharusnya menetapkan aturan mengenai bagaimana si anak berlaku di sekolah, menghadapi oranglain, dan seputar menjaga keamanan si anak. Aturan mengenai keamanan dan moral adalah hal yang boleh dilakukan, tetapi peraturan mengenai masalah personal (pilihan alat musik yang ingin dimainkan), bukan hal yang tepat untuk diurusi orangtua,” jelas Darling

Tak selalu baku, karena anak dan orangtua tak selalu sepaham mengenai isu apa yang pribadi dan apa yang menyangkut keamanan atau moral. “Kadang, apa yang diungkap orangtua adalah tentang keamanan atau moralitas, sementara menurut anak itu adalah masalah personal. Contohnya, lirik musik yang mengandung kata-kata kekerasan dan sikap buruk bisa membuat orangtua berpikir hal itu bisa jadi pengaruh buruk untuk anak, sementara anak remaja menilai itu adalah masalah selera pribadi.”

4. Cinta yang tak berbatas (lewat ucapan)

Jika Anda mengatakan “Mama sayang kamu, tetapi Mama ingin kamu bertingkah laku …..” atau “Mama tahu kamu pasti bisa lebih baik,” adalah kata-kata motivasi yang lebih baik ketimbang, “Kamu itu sampah kalau enggak bisa duduk dengan rapi!” karena hasilnya akan menyakiti diri si anak.

5. Kata-kata yang tidak diperhatikan

Bukan hanya cara mengatakannya, tetapi apa yang dikatakan juga penting. Meski sudah menyiapkan nada sehalus apa pun, isi kata-kata juga punya pengaruh besar. Perhatikan apa yang diucapkan, jangan sampai menyakiti atau membuat anak berkecil hati.

6. Tidak punya waktu

Saat meminta anak untuk melakukan suatu hal yang sulit, cobalah bekerja bersama mereka ketimbang memerintah mereka. “Pengasuhan orangtua yang baik adalah dengan memberikan waktu kepada anak,” jelas Darling.

7. Anda selalu menjadi “polisi”, “monitor”, atau “alarm pengingat”
“Setiap hari, tugas Anda seperti alarm pengingat, dan hal itu menjadi satu-satunya komunikasi dengan anak, bisa jadi Anda adalah salah satu ‘tiger mom’, orangtua yang terlalu ketat dengan peraturan sendiri,” ujar Ron Taffel, PhD, psikolog New York dan penulis Childhood Unbound, seperti dikutip dari WebMD.

8. Tak diperhitungkan oleh anak

Jika hubungan dengan si anak terasa makin jauh, ia tak lagi mau berbicara dengan Anda, bahkan untuk masalah-masalah genting, bisa jadi pertanda Anda terlalu tegang kepadanya. “Anda bisa memenangkan pertandingan, tetapi kalah dalam peperangannya. Anda berhasil membuat si anak melakukan peraturan Anda, tetapi mereka jadi takut kepada Anda, mereka tak berani berkomunikasi dengan Anda.” terang Taffel.

9. Anak tak mau ajak teman ke rumah

“Anak mau aturan, dan semua anak akan tertarik terhadap aturan di rumah, tetapi jika Anda menghabiskan waktu mengingatkan si anak mengenai peraturan, mengkritik anak di depan anak lain, dan menanyakan terlalu banyak pertanyaan ingin tahu, anak Anda akan mulai berhenti mengajak teman ke rumah. Itu artinya Anda adalah orangtua yang terlalu ketat. Jika ada teman anak yang minta bermain lagi di rumah Anda, dan berani berkomunikasi dengan Anda, berarti rumah Anda sangat menyenangkan,” jelas Taffel.

10. Si anak terlihat, tetapi tidak terdengar

Di abad 21 ini, anak-anak sudah terbiasa dengan jaringan sosial, dari BlackBerry Messenger, Twitter, Facebook, dan lainnya, ini bukti bahwa anak senang didengarkan. Orangtua yang terlalu ketat tak akan membiarkan anaknya mengutarakan pendapatnya. Anda tak perlu selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi biarkan si anak mengutarakan isi pikirannya.

11. Selalu bekerja, belajar, melakukan tugas, tak pernah main

Anak-anak butuh waktu bersantai dan bersenang-senang untuk menyerap apa pun yang mereka pelajari. Jika mereka berisi kemampuan, pengetahuan, dan informasi yang mereka tak bisa gunakan sehari-hari, dan hanya belajar karena mereka disuruh belajar, otak mereka akan berakhir seperti spons yang menyerap pengetahuan tetapi tidak bisa mencernanya.

12. Satu-satunya

Cari tahu apa yang dilakukan orangtua lain. Saat tak ada orangtua lain yang melakukan peraturan sama dengan Anda, misal, tidak memberikan akses internet kepada anak, seperti yang Anda lakukan, bisa jadi Anda terlalu ketat pada anak.

13. Semua dilarang

Disarankan agar tidak mendorong sesuatu, tetapi juga tidak melarang. Misal, “Mama lebih baik kamu tidak melakukan hal ini karena alasan tertentu, tetapi kalau kamu tetap lakukan, Mama akan lebih sering mengawasi kamu karena kekhawatiran Mama tadi.”

14. Jika aturan adalah aturan, tak boleh bertanya

Anda harus punya aturan jelas, konsisten, untuk menciptakan semacam perkiraan, ekspektasi, tetapi juga ada ruang untuk situasi tertentu yang bisa saja merusak aturan tersebut.

15. Otoriter, bukan otoritatif

Ada perbedaan dari hal tersebut. Orangtua yang otoritatif mempersiapkan ekspektasi yang jelas dan bisa sangat keras terhadap anak-anaknya, tetapi mereka juga punya kehangatan dan memikirkan hal terbaik untuk anak. Sementara orangtua yang otoriter mengatakan, “Cara saya atau kamu pergi!” Orangtua yang otoriter sangat suka mengkontrol dan tidak hangat. Orangtua yang otoritatif tahu bagaimana mengkontrol anak sesuai umurnya.

16. Sedingin es

“Tak ada yang peduli jika orangtua sangat tegas asalkan mereka hangat. Yang menjadi masalah adalah ketika orangtua itu tegas sekaligus dingin,” jelas Short.

Penulis: NAD Editor: Nadia Felicia Sumber : WebMD

Mendidik untuk Kuat Bersaing

[@rtikel yang sangat menarik, tapi ketika mau saya share di fesbuk gagal login terus, maka untuk arsip saya ijin tempel di sini ya pak Diman.]

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Masyarakat Amerika, khususnya kaum pendidik dan para ibu, digegerkan buku Battle Hymn of the Tiger Mother yang baru terbit.

Buku yang ditulis Amy Chua, seorang warga AS keturunan China dan menjadi profesor hukum di Universitas Yale, menuturkan pendapat penulis tentang bagaimana seorang ibu harus mendidik anaknya.

Pendidikan itu harus keras, kuat menanamkan disiplin, dan tanpa ampun dalam menumbuhkan kemampuan. Ia gambarkan bagaimana ia mengharuskan putri-putrinya belajar main piano berjam-jam lamanya. Juga keras dalam membentuk sikap dan kepribadian, seperti melarang pergi malam, lama menonton TV, dan banyak lagi hal yang biasa diizinkan oleh ibu Amerika.

Anaknya harus mendapat nilai-nilai tertinggi dalam pelajaran apa saja dan selalu mengusahakan mencapai peringkat terbaik di sekolah.

Buku itu mengundang reaksi ramai yang menilai Amy Chua sebagai ibu tanpa cinta kasih kepada anaknya, bahkan menyebutnya monster. Akan tetapi, di pihak lain timbul rasa khawatir bahwa cara mendidik versi China (the Chinese way) ini, dan mestinya dilakukan secara luas di China, akan menjadikan China unggul atas AS.

Sudah terbukti bahwa kemampuan anak AS dalam berbagai pertandingan internasional tidak hanya kalah dari China, tetapi juga dari bangsa lain. Hasil tes terakhir dari Program for International Student Assessment menunjukkan bahwa murid AS di sekolah dasar dan menengah hanya mencapai ranking ke-17 untuk membaca, ke-23 untuk sains, ke-31 untuk matematika, dan secara keseluruhan ranking ke-17.

Sebaliknya, prestasi China kini menonjol, seperti tahun 2010 menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar dunia, jumlah periset meningkat 111 persen dibanding tahun 1999 (AS hanya 8 persen), peningkatan murid SMA dari 48 persen anak sekolah tahun 1994 ke 76 persen sekarang, dan lainnya. Orang AS berpikir, sekarang AS masih nomor satu di dunia, tetapi untuk berapa lama lagi?

Ketika diwawancara, Amy Chua menolak disebut monster yang tanpa kasih sayang kepada anak-anaknya. Ia cuma tidak mau menjadikan anak-anaknya orang-orang lemah yang berkembang menjadi pecundang dalam kehidupan yang penuh persaingan. Ia dulu malah mengalami pendidikan yang lebih keras dari ibu-bapaknya. Suami Amy Chua, Jed Rubenfeld, juga profesor hukum di Yale, semula mau mengurangi beban anak-anaknya. Akan tetapi, akhirnya ia harus menyetujui sikap istrinya.

Lingkungan keluarga

Buat kita di Indonesia ini, semua perlu menjadi petunjuk dalam mendidik bangsa kita menghadapi dunia internasional yang penuh persaingan, di mana hanya yang mampu dan kuat yang dapat bertahan. Sejak lama kita katakan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga penting sekali untuk pembentukan karakter bangsa, termasuk daya tahan orang menghadapi berbagai perkembangan, adanya dorongan untuk selalu menghasilkan yang terbaik, bergiat dalam kelompok, dan hal-hal lain lagi.

Hingga kini pendidikan karakter di Indonesia masih amat banyak kekurangannya. Itu yang mengakibatkan sifat manja-mental (mentally spoilt) di banyak kalangan masyarakat. Itu pula sebab utama mengapa kita sukar menemukan pemimpin yang bermutu, yang tidak hanya pandai berteori, tetapi juga mampu mengimplementasikan teori itu.

Dari sebelum China muncul sebagai kekuatan, penulis mengatakan bahwa kita harus sanggup bersaing dengan Jepang yang waktu itu menonjol daya saingnya. Sekarang tidak cukup kita mampu bersaing dengan Jepang, tetapi juga dengan China yang makin kuat. Bahkan dengan Korea yang sekalipun sebagai bangsa relatif kecil, tetapi kuat sekali daya saingnya.

Amat penting kepemimpinan nasional di Indonesia memotivasi pendidikan di lingkungan keluarga untuk membentuk karakter bangsa yang jauh lebih kuat. Kita bangsa dengan banyak bakat yang tinggi nilainya. Akan tetapi, telah terbukti dalam kehidupan umat manusia bahwa nurture is much more important than culture atau mengasuh, mendidik, dan membina jauh lebih penting daripada bakat.

Hendaknya pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta berbagai organisasi kewanitaan mengambil langkah konkret yang menggiatkan pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Meskipun pendidikan sekolah juga wajib memberikan pendidikan karakter, kegiatan itu perlu ditingkatkan volume dan mutunya melalui pendidikan dalam keluarga.

Semoga dengan jalan itu bangsa Indonesia berhenti bermental manja, berganti menjadi bangsa yang kuat lahir-batin, dan senantiasa berusaha melakukan dan mencapai yang terbaik dalam kehidupan.

Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Gubernur Lemhannas dan Mantan Dubes RI di Jepang

Borges dan Pacarku

(Saya menemukan tulisan kacau bin remuk ini diarsip email saya, agar tidak membusuk saya lempar saya ke blog ini.)

Dia yang telah bilang pada kita, seakan baru kemarin aku dan dirimu berkumpul di hadapan petak pualam terakhir dan pohon-pohon cemara maut itu, dan ternyata benar kasih sayang dan rindu, yang dengan hormat kita sebut cinta itu, baik yang bersatu dan terpisah, akhirnya tak lebih dari halusinasi merindukan kembali permainan Adam dan Hawa, untuk menemukan bentuk dan nama-nama di lereng panjang malam hari, di tapal batas dini hari, untuk bulan, untuk maut, untuk pagi.

Orang tua itu kau sebut Borges karena telah mengantarkanmu menyusuri kembali taman yang di bangun oleh leluhurmu dengan membawa lampion kertas berbentuk tabung berwarna bulan. Meski aku tetap yakin dari dekat kau masih tak dapat menginggat raut wajahnya, yang memang tak menampakan kemiripan dengan siapapun. Kau melewatinya tanpa sudi menungguku. Jalan setapak yang memang agak basah dan berliku-liku, yang kau yakini dapat sampai, pada sebuah kawasan dimana anak-anak muda bersujud khusyuk di hadapan buku-buku dan menciumi halaman-halamannya dengan beringgas. Mimpi yang selalu diimpikan ibundamu, yang kini bermata tua, rabun dan alum. Sosok yang selalu hadir di mataku ketika aku hendak mencium bibirmu yang basah dan senantiasa gemetaran.

Setelah peristiwa itu kau masih tergolek beku di pembaringan, di empat sudut peraduanku kau memasang sedap malam, agar ketika kita tidur tidak terganggu desir jam pasir, peta-peta, aroma kopi, bentuk-bentuk huruf dari abad ke-18, akar-akar kata, dan prosa Robert Louis Stevenson, yang mulai tumbuh di lahan pikiran kita yang terlanjur terlalu berbineka. Kita ingin berlayar ke negeri di mana ilusi dan kemayaan merupakan sebentuk realita yang baka. Sebab keinginan kita bersahaja, saling berpanggut, saling mencium, sebelum saling berpelukan lepas, dan kita tinggal di sebuah Paviliun yang akan menyimpan semua nikmat, juga ranjang-ranjang empuk, yang tak harus diisi dengan keasyikan pesta-pesta meriah. Tetapi kau memang sudah tertimpa rasa jernih yang ganjil akibat insomnia. Sehingga dekapanku tak lagi sanggup menidurkanmu dengan pulas, kau hanya berhasil tidur sebentar. Sambil terus membawa igauan tentang orang-orang yang tersembunyi, yang sibuk dan menjelma berbagai rupa, yang memenuhi taman leluhurmu yang tinggal sepetak.

Ya, kau melihatku sedang tercekam, menyendiri di tamanmu yang tampak tak lagi terurus, dengan bangkai belukar mawar dan sekawanan anjing yang menyerupai warna bulan, yang bertampang kurus dan jahat, aku sedang memandangmu dengan putus asa. Beberapa jenggal dari tempatku duduk kau melihat dirimu sendiri, sedang mengenakan gaun putih seorang pengantin dengan sepasang mata yang di penuhi lelatu, kali lain aku sedang memasangkan cincin kawin buat gadis yang ternyata teman akrabmu. Kehadiran bayangan itu menjabarkan kemungkinan-kemungkinan lain yang bercabang, berderet, yang tak terhitung banyaknya. Memberi kabar padamu tentang sebuah teka-teki bahwa langkahku di jalan tanah menaiki beberapa anak tangga batu yang senyap, dengan reranting pepohonan berliuk liku di atas kepala, bulan dikerendahan seakan mengikutiku, bukan perjalanan menempuh kearah pinanganmu. Meski sudah beratus kali aku membakarmu dengan ciuman.

Episode itu juga mewujudkan pengertianmu akan keyakinan sebuah bangunan sempurna dan tersembunyi yang terkubur di bawah lingkaran langit, yang terdiri dari bilik-bilik, jalan-jalan melingkar, sungai-sungai, propinsi-propinsi, paras-paras gadis yang terkadang memalingkan muka dari selidikmu, semua berkelindan dan tumbuh antara kekacauan masa laluku dan masa lalumu. Bukankah lonceng kebersamaan cinta kasih kita bermula dari keyakinan seorang manusia bisa menjadi musuh manusia lain dan sebaliknya?

“Ini semua,” katamu menirukan Borges, “keanekaragaman yang mengerikan.” Sebab hidup memang tak lebih dari kesia-siaan kita yang ingin kembali kepersimpangan pertama, yang berisi halaman kosong dan sekarang kita sebut dengan rendah hati sebagai lubang hitam, yang memuntahkan cairan aspal. Kalau benar ini yang di bilang cinta, yang membenamkan jasadmu kedalam kolam hitam yang mengalir entah kemana, biarlah separuh bagian besar perasaan itu ada, karena setengah rasa senangku atau sebalku atas semua gambaran halusinasimu. Sungguh bukanlah karena birahi yang seburuk cermin, yang senggamanya menyimpan niat jahat, ambisi melipatkan jumlah manusia. Bukanlah pula karena filsafat materialisme yang gairah dan keasyikannya memberi rumusan yang tak lagi jernih.

Memanglah kita tak melakukan semua itu dengan menghubungkannya dengan kesejatian, sebab kehadiran raut muka kita kelak, meski di maklumi tak pelak lagi tiada sanggup membaca atau melafal alur sejarah yang bertambah misterius dan variasinya merupakan percobaan retorik tanpa akhir anak-anak berandal. Titik tolak dari semua percabangan ini, percayalah oh sayangku, baik yang datang dari masa lalu dan masa mendatang, berada pada ujung kecupan bibirku di bawah telinggamu pada lima menit terakhir sebelum kita jatuh terkapar di ranjang-ranjang empuk, sambil berujar, “bertempurlah para pahlawan di dalam tubuhmu dan tubuhku, damai hati kita, senggama ini di takdirkan sebagaimana sebutir pasir di tambahkan pada hamparan gurun yang tak tepermanai, tanpa punya tujuan yang jelas.” Sebab kia sama-sama percaya sebagai sepasang makluk bersahaja sekaligus sang kudus itu sendiri.

Kalau orang lain, ibundamu saja yang aku khawatirkan, merasa perlu iba dan menyeringaikan mulutnya, dan meneteskan air di pipi, menyumpah serapah dengan kesundalan kita itu, maka beritahukan pada mereka kalau kita hanya sekedar sepasang insan, yang sedang menjalani rangkaian cerita yang dikarang seorang dewa rendahan yang sedang mabuk di ketinggian lengkung langit sana, juga olok-olokan mereka tak lebih dari itu. Tetapi jangan kau katai demikian untuk kasih sayang ibundamu. Kita boleh durhaka pada dewa, tapi jangan pada ibu dan diri sendiri, tidak elok (pantas) kata orang jawa.

Atau memang benar kita sudah menjadi sekian banyak manusia sia-sia, yang membawa impian yang tak seorang pun mengimpikannya. Kedatangan kita ke petak pualam terakhir dan pohon-pohon cemara maut itu tak lebih karena rasa ingin memuja keputusan rahasia yang diam-diam pernah menjadi lapisan karat di hati kita. “Dua tahun semenjak kukatakan ini kita akan menikah dan merayakan ilusi di tanah seberangmu, dimana leluhurmu mengentas air laut untuk melengkapi bumbu masak setiap negeri. Dimana ras bangsamu sering salah dipahami sebagai gerombolan keturunan kuli, yang bahasa dan tutur katanya sengak membahana. Kau lihat didaun hatiku yang hanya selembar ini namamu saja yang tertera dalam bingkai kecil yang berselimut aura maut dan pagi. Bersahaja dan baka.”

Hanya aku tak tega membuatmu jadi terjaga, bahwa kemayaanlah yang menaungi kerawanan jiwamu, sesungguhnya leluhurmu yang periang itu, yang bertahun-tahun lamanya menyediakan seluruh kehidupannya, dengan merasa tak terkecoh hidup di tanah muram, dengan bukit-bukit dan pandang-padang gersang, satu tanah yang tak penah dijanjikan dikitab suci manapun juga, tak pernah membangun tanah itu.

Kau hanya terpesona dengan epik yang ditulis dengan kebinggungan oleh Borges.
Sebenarnya aku jemu mendengar celotehmu bahwa kau telah menjadi sekian orang dari mereka yang merasa menjadi penghuni dimukim yang tak pernah ada itu. Dimana selalu kau ceritakan kotanya, pada pukul tujuh pagi, masih belum kehilangan suasana rumah tua yang ditebarkan malam, jalan-jalan tampak menjadi serambi panjang, lapangan-lapangan bagai pekarangan. Kau mencerap semua pemandangan itu seolah nyata. Seolah kau adalah Juan Dahlmann dalam kereta kuda yang sedang menuju perjalanan menempuh Selatan. Pada cahaya kuning pembuka hari itu, bagimu, segalanya terasa sangat hidup melebihi semua kenangan yang pernah kita lewati, dimana dirimu juga pernah kuajak dalam perjalanan kereta kuda meninggalkan sebuah rumah sakit jiwa, dimana dirimu juga pernah menaiki kereta api yang sesak dan berjam-jam aku berdiri memandangimu dengan hasrat ingin memeluk dan membaui keringat di pelipismu, sebelum kudekatkan bibirku kearah bibirmu, yang terakhir itu tak terjadi hanya karena kita berada di keramaian, dan kau gadis yang sopan, kita dalam perjalanan ke tempat Soekarno dilahirkan, untuk mencari tahu berapa banyak orang komunis yang ditebas kepalanya seperti menembas batang pisang. Semua itu membuatku mengiri dan agak membenci Borges.

Dibalik bingkai jendela kamarku tak ada laut. Tidak juga danau tempat kau merindukan sebuah sampan didayung menuju padamu. Tetapi seminggu sekali aku tak akan lupa berkirim surat. Hari ini, aku memutuskan untuk pergi. Ketika kau pulas tertidur setelah berbulan-bulan insomnia terus bersarang di otakmu. Hampir saja aku tak dapat melangkahkan kaki tak tahan melihatmu yang tertidur dengan tersenyum, dan selalu seperti itulah kau bila tidur pulas, tapi kau tak pernah menyadarinya, mendadak aku tersadar aku begitu mencintaimu dan betapa sulit kalau harus berada berjarak denganmu.

Sayang, betapa luar biasa yang sudah terjadi. Kalau nanti kau terjaga dan masih membekas jejak bibirku di keningmu, bukankah selalu kening yang kucium ketika perasaanku berada dipujuk kasih sayang hampa manusia itu, perlu kau tahu itulah raut wajah yang akan tetap hidup dan datang menyertai ketentraman ajaib bila sosokmu kembali menyihirku.

Dalam hidup ternyata aku memang sudah tak punya rahasia yang tak kubagi denganmu. Aku melakukan ini sebagai isyarat organ-organ di dalam pikiranku nyatanya tak lebih mengiba dan bersuka cita, kalau tak bercampur ngeri dan kebinggungan, menyaksikan kebiasaanmu yang agaknya mulai suka berjalan-jalan keliling, untuk sejenak memandang lengkungan sebuah gerbang tua berjeruji besi. Untuk menjumpai sepetak penjara, yang di dalam renungannya akan memekakan, kalau tidak, menukik dan memekarkan hati di kedalaman jauh kerajaan kemayaanmu.

Diseantero telapakku, biarkan aku mencari, kerajaan yang mengalami kepunahan akibat arah arus hati yang justru mengejar kekekalan, yang keberadaanya telah tergantikan kembali, oleh susunan bintang-bintang yang juga berarti fana itu.

Setelah ini aku akan ada banyak waktu pergi ke padang, di mana kijang dan bulus berlari dari terkaman sang macan. Menyaksikan segerombolan domba bunting yang memamahbiak rumputan yang beribu pada bumi. Dan langit yang melahirkan bumi itu. Aku tak berani pergi sendiri, aku takut keliru menafsirkan bunyi dan tanda yang tertera di cekung langit sana.

Agaknya setelah ini aku dapat leluasa menghindar dari tidur malam yang bagaikan kolam kelam yang dalam di mana sering aku merasa diriku tenggelam. Sekali waktu pernah kukatakan padamu bahwa problematik hubungan kita lahir dari kehendak yang tak berhasil, tepatnya hilang dan semrawut, oleh sekongkol pendramaan yang menakdirkan diri pemain dan penonton, menghabiskan kesal dan igauan dipanggung pertunjukan.

Kekasihku, betapa dasyat gelegar suara doa yang aku gantung dikelam langit malam, saat gerimis air mataku yang keniscayaan kekudusannya, mengiba pada sang Maha Kuasa untuk dikabulkan. Aku seperti serdadu yang ragawi dan moncong senapannya menembak tanpa komando ke sisi tergelap akibat bisu, kelu, beku yang seolah batu.

Satu angka yang masih tertinggal disangkar batuku, adalah ketidakacuhan minatmu yang terus merangsangkan pengharapan yang sungguh sederhana. Kalau kelak aku kembali, sambutlah dipelataran, kau bersihkan bilik dan koridor kecil yang berada di samping emper kedua, dimana terdapat tiga pijakan tangga, sebelum aku sampai ke dalam keabsahan upacara jamuan makan malam, untuk menuntaskan makna rindu.

Tanganku akan silih berganti dengan intuisinya mengisi dalih tentang ruang pengembaraan yang memancarkan sinarnya yang tak henti-henti. Sekali pada kesempatan itu aku kan menjadi kekasihmu yang lain dari yang pernah kau jumpai.

Seolah memanglah demikian warna mawar terang ditundukan oleh sergapan tahun-tahun yang lewat. Dan rindu yang bertemu akan mati meluruh terbawa angin, dilarungkan sungai-sungai, melewati dari satu propinsi ke propinsi, terjatuh ke tanah, terbawa ke laut dan terdampar di tepi pantai yang bertuan pada sukma kita.

Ya, sayangku, di petak pulam terakhir, atau pohon-pohon cemara maut, atau taman yang membasah dengan gerumbul mawar beranjing warna bulan, atau di negerimu yang tandus dan gersang, cinta dan rindu hanya kemayaan dan ilusi yang senantiasa membuntuti permainan yang diperankan Adam dan Hawa untuk menangisi dan menertawai seisi maut dan pagi. Tetapi aku sudah berjanji dihadapan Borges, orang tua yang penuh kehormatan dan kebinggungan itu, bahwa aku akan menikahimu kalau sepotong cinta yang kita punya mampu mencapainya.

Ingatlah itu selalu Cintaku!

Asrama Mahasiswa Unibraw, September 2005.

Catatan:
Tulisan ini sengaja dibaurkan dengan Labirin Impian (LKiS, 1999), sekumpulan tulisan Jorge Luis Borges, seorang perintis gerakan sastra Ultraismo (yang mengandalkan pemadatan metafor secara ekstrem) di Spanyol, yang di terjemahkan dengan sangat mengesankan oleh Hasif Amini, seorang anak muda yang berbakat, agar suatu hari ada yang mengkhotbahkan pada saya tentang copyright dan segala tetek bengeknya, dan sebagai upaya untuk menunjukan satu proses kreatif (atau tidak kreatif) bukanlah hal yang sakral lahir dari tabungan milik sendiri, dan kenyataanya saya (mungkin juga kau) tidak bisa berdiri sendiri tanpa kerja kolektif. Dalam praktek sastra di negeri Tlön tidak ada istilah plagiarisme, karena sudah ditetapkan, dimaklumi, bahwa semua karya adalah karya seorang pengarang, yang anonim dan baka. Kita tak lebih hanya kritikus yang memantulkan impian pergarang itu, dan menciptakan pengarang sendiri, kalau kau tak percaya buka halaman 34 pada paragraf kedua.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.