Borges dan Pacarku

(Saya menemukan tulisan kacau bin remuk ini diarsip email saya, agar tidak membusuk saya lempar saya ke blog ini.)

Dia yang telah bilang pada kita, seakan baru kemarin aku dan dirimu berkumpul di hadapan petak pualam terakhir dan pohon-pohon cemara maut itu, dan ternyata benar kasih sayang dan rindu, yang dengan hormat kita sebut cinta itu, baik yang bersatu dan terpisah, akhirnya tak lebih dari halusinasi merindukan kembali permainan Adam dan Hawa, untuk menemukan bentuk dan nama-nama di lereng panjang malam hari, di tapal batas dini hari, untuk bulan, untuk maut, untuk pagi.

Orang tua itu kau sebut Borges karena telah mengantarkanmu menyusuri kembali taman yang di bangun oleh leluhurmu dengan membawa lampion kertas berbentuk tabung berwarna bulan. Meski aku tetap yakin dari dekat kau masih tak dapat menginggat raut wajahnya, yang memang tak menampakan kemiripan dengan siapapun. Kau melewatinya tanpa sudi menungguku. Jalan setapak yang memang agak basah dan berliku-liku, yang kau yakini dapat sampai, pada sebuah kawasan dimana anak-anak muda bersujud khusyuk di hadapan buku-buku dan menciumi halaman-halamannya dengan beringgas. Mimpi yang selalu diimpikan ibundamu, yang kini bermata tua, rabun dan alum. Sosok yang selalu hadir di mataku ketika aku hendak mencium bibirmu yang basah dan senantiasa gemetaran.

Setelah peristiwa itu kau masih tergolek beku di pembaringan, di empat sudut peraduanku kau memasang sedap malam, agar ketika kita tidur tidak terganggu desir jam pasir, peta-peta, aroma kopi, bentuk-bentuk huruf dari abad ke-18, akar-akar kata, dan prosa Robert Louis Stevenson, yang mulai tumbuh di lahan pikiran kita yang terlanjur terlalu berbineka. Kita ingin berlayar ke negeri di mana ilusi dan kemayaan merupakan sebentuk realita yang baka. Sebab keinginan kita bersahaja, saling berpanggut, saling mencium, sebelum saling berpelukan lepas, dan kita tinggal di sebuah Paviliun yang akan menyimpan semua nikmat, juga ranjang-ranjang empuk, yang tak harus diisi dengan keasyikan pesta-pesta meriah. Tetapi kau memang sudah tertimpa rasa jernih yang ganjil akibat insomnia. Sehingga dekapanku tak lagi sanggup menidurkanmu dengan pulas, kau hanya berhasil tidur sebentar. Sambil terus membawa igauan tentang orang-orang yang tersembunyi, yang sibuk dan menjelma berbagai rupa, yang memenuhi taman leluhurmu yang tinggal sepetak.

Ya, kau melihatku sedang tercekam, menyendiri di tamanmu yang tampak tak lagi terurus, dengan bangkai belukar mawar dan sekawanan anjing yang menyerupai warna bulan, yang bertampang kurus dan jahat, aku sedang memandangmu dengan putus asa. Beberapa jenggal dari tempatku duduk kau melihat dirimu sendiri, sedang mengenakan gaun putih seorang pengantin dengan sepasang mata yang di penuhi lelatu, kali lain aku sedang memasangkan cincin kawin buat gadis yang ternyata teman akrabmu. Kehadiran bayangan itu menjabarkan kemungkinan-kemungkinan lain yang bercabang, berderet, yang tak terhitung banyaknya. Memberi kabar padamu tentang sebuah teka-teki bahwa langkahku di jalan tanah menaiki beberapa anak tangga batu yang senyap, dengan reranting pepohonan berliuk liku di atas kepala, bulan dikerendahan seakan mengikutiku, bukan perjalanan menempuh kearah pinanganmu. Meski sudah beratus kali aku membakarmu dengan ciuman.

Episode itu juga mewujudkan pengertianmu akan keyakinan sebuah bangunan sempurna dan tersembunyi yang terkubur di bawah lingkaran langit, yang terdiri dari bilik-bilik, jalan-jalan melingkar, sungai-sungai, propinsi-propinsi, paras-paras gadis yang terkadang memalingkan muka dari selidikmu, semua berkelindan dan tumbuh antara kekacauan masa laluku dan masa lalumu. Bukankah lonceng kebersamaan cinta kasih kita bermula dari keyakinan seorang manusia bisa menjadi musuh manusia lain dan sebaliknya?

“Ini semua,” katamu menirukan Borges, “keanekaragaman yang mengerikan.” Sebab hidup memang tak lebih dari kesia-siaan kita yang ingin kembali kepersimpangan pertama, yang berisi halaman kosong dan sekarang kita sebut dengan rendah hati sebagai lubang hitam, yang memuntahkan cairan aspal. Kalau benar ini yang di bilang cinta, yang membenamkan jasadmu kedalam kolam hitam yang mengalir entah kemana, biarlah separuh bagian besar perasaan itu ada, karena setengah rasa senangku atau sebalku atas semua gambaran halusinasimu. Sungguh bukanlah karena birahi yang seburuk cermin, yang senggamanya menyimpan niat jahat, ambisi melipatkan jumlah manusia. Bukanlah pula karena filsafat materialisme yang gairah dan keasyikannya memberi rumusan yang tak lagi jernih.

Memanglah kita tak melakukan semua itu dengan menghubungkannya dengan kesejatian, sebab kehadiran raut muka kita kelak, meski di maklumi tak pelak lagi tiada sanggup membaca atau melafal alur sejarah yang bertambah misterius dan variasinya merupakan percobaan retorik tanpa akhir anak-anak berandal. Titik tolak dari semua percabangan ini, percayalah oh sayangku, baik yang datang dari masa lalu dan masa mendatang, berada pada ujung kecupan bibirku di bawah telinggamu pada lima menit terakhir sebelum kita jatuh terkapar di ranjang-ranjang empuk, sambil berujar, “bertempurlah para pahlawan di dalam tubuhmu dan tubuhku, damai hati kita, senggama ini di takdirkan sebagaimana sebutir pasir di tambahkan pada hamparan gurun yang tak tepermanai, tanpa punya tujuan yang jelas.” Sebab kia sama-sama percaya sebagai sepasang makluk bersahaja sekaligus sang kudus itu sendiri.

Kalau orang lain, ibundamu saja yang aku khawatirkan, merasa perlu iba dan menyeringaikan mulutnya, dan meneteskan air di pipi, menyumpah serapah dengan kesundalan kita itu, maka beritahukan pada mereka kalau kita hanya sekedar sepasang insan, yang sedang menjalani rangkaian cerita yang dikarang seorang dewa rendahan yang sedang mabuk di ketinggian lengkung langit sana, juga olok-olokan mereka tak lebih dari itu. Tetapi jangan kau katai demikian untuk kasih sayang ibundamu. Kita boleh durhaka pada dewa, tapi jangan pada ibu dan diri sendiri, tidak elok (pantas) kata orang jawa.

Atau memang benar kita sudah menjadi sekian banyak manusia sia-sia, yang membawa impian yang tak seorang pun mengimpikannya. Kedatangan kita ke petak pualam terakhir dan pohon-pohon cemara maut itu tak lebih karena rasa ingin memuja keputusan rahasia yang diam-diam pernah menjadi lapisan karat di hati kita. “Dua tahun semenjak kukatakan ini kita akan menikah dan merayakan ilusi di tanah seberangmu, dimana leluhurmu mengentas air laut untuk melengkapi bumbu masak setiap negeri. Dimana ras bangsamu sering salah dipahami sebagai gerombolan keturunan kuli, yang bahasa dan tutur katanya sengak membahana. Kau lihat didaun hatiku yang hanya selembar ini namamu saja yang tertera dalam bingkai kecil yang berselimut aura maut dan pagi. Bersahaja dan baka.”

Hanya aku tak tega membuatmu jadi terjaga, bahwa kemayaanlah yang menaungi kerawanan jiwamu, sesungguhnya leluhurmu yang periang itu, yang bertahun-tahun lamanya menyediakan seluruh kehidupannya, dengan merasa tak terkecoh hidup di tanah muram, dengan bukit-bukit dan pandang-padang gersang, satu tanah yang tak penah dijanjikan dikitab suci manapun juga, tak pernah membangun tanah itu.

Kau hanya terpesona dengan epik yang ditulis dengan kebinggungan oleh Borges.
Sebenarnya aku jemu mendengar celotehmu bahwa kau telah menjadi sekian orang dari mereka yang merasa menjadi penghuni dimukim yang tak pernah ada itu. Dimana selalu kau ceritakan kotanya, pada pukul tujuh pagi, masih belum kehilangan suasana rumah tua yang ditebarkan malam, jalan-jalan tampak menjadi serambi panjang, lapangan-lapangan bagai pekarangan. Kau mencerap semua pemandangan itu seolah nyata. Seolah kau adalah Juan Dahlmann dalam kereta kuda yang sedang menuju perjalanan menempuh Selatan. Pada cahaya kuning pembuka hari itu, bagimu, segalanya terasa sangat hidup melebihi semua kenangan yang pernah kita lewati, dimana dirimu juga pernah kuajak dalam perjalanan kereta kuda meninggalkan sebuah rumah sakit jiwa, dimana dirimu juga pernah menaiki kereta api yang sesak dan berjam-jam aku berdiri memandangimu dengan hasrat ingin memeluk dan membaui keringat di pelipismu, sebelum kudekatkan bibirku kearah bibirmu, yang terakhir itu tak terjadi hanya karena kita berada di keramaian, dan kau gadis yang sopan, kita dalam perjalanan ke tempat Soekarno dilahirkan, untuk mencari tahu berapa banyak orang komunis yang ditebas kepalanya seperti menembas batang pisang. Semua itu membuatku mengiri dan agak membenci Borges.

Dibalik bingkai jendela kamarku tak ada laut. Tidak juga danau tempat kau merindukan sebuah sampan didayung menuju padamu. Tetapi seminggu sekali aku tak akan lupa berkirim surat. Hari ini, aku memutuskan untuk pergi. Ketika kau pulas tertidur setelah berbulan-bulan insomnia terus bersarang di otakmu. Hampir saja aku tak dapat melangkahkan kaki tak tahan melihatmu yang tertidur dengan tersenyum, dan selalu seperti itulah kau bila tidur pulas, tapi kau tak pernah menyadarinya, mendadak aku tersadar aku begitu mencintaimu dan betapa sulit kalau harus berada berjarak denganmu.

Sayang, betapa luar biasa yang sudah terjadi. Kalau nanti kau terjaga dan masih membekas jejak bibirku di keningmu, bukankah selalu kening yang kucium ketika perasaanku berada dipujuk kasih sayang hampa manusia itu, perlu kau tahu itulah raut wajah yang akan tetap hidup dan datang menyertai ketentraman ajaib bila sosokmu kembali menyihirku.

Dalam hidup ternyata aku memang sudah tak punya rahasia yang tak kubagi denganmu. Aku melakukan ini sebagai isyarat organ-organ di dalam pikiranku nyatanya tak lebih mengiba dan bersuka cita, kalau tak bercampur ngeri dan kebinggungan, menyaksikan kebiasaanmu yang agaknya mulai suka berjalan-jalan keliling, untuk sejenak memandang lengkungan sebuah gerbang tua berjeruji besi. Untuk menjumpai sepetak penjara, yang di dalam renungannya akan memekakan, kalau tidak, menukik dan memekarkan hati di kedalaman jauh kerajaan kemayaanmu.

Diseantero telapakku, biarkan aku mencari, kerajaan yang mengalami kepunahan akibat arah arus hati yang justru mengejar kekekalan, yang keberadaanya telah tergantikan kembali, oleh susunan bintang-bintang yang juga berarti fana itu.

Setelah ini aku akan ada banyak waktu pergi ke padang, di mana kijang dan bulus berlari dari terkaman sang macan. Menyaksikan segerombolan domba bunting yang memamahbiak rumputan yang beribu pada bumi. Dan langit yang melahirkan bumi itu. Aku tak berani pergi sendiri, aku takut keliru menafsirkan bunyi dan tanda yang tertera di cekung langit sana.

Agaknya setelah ini aku dapat leluasa menghindar dari tidur malam yang bagaikan kolam kelam yang dalam di mana sering aku merasa diriku tenggelam. Sekali waktu pernah kukatakan padamu bahwa problematik hubungan kita lahir dari kehendak yang tak berhasil, tepatnya hilang dan semrawut, oleh sekongkol pendramaan yang menakdirkan diri pemain dan penonton, menghabiskan kesal dan igauan dipanggung pertunjukan.

Kekasihku, betapa dasyat gelegar suara doa yang aku gantung dikelam langit malam, saat gerimis air mataku yang keniscayaan kekudusannya, mengiba pada sang Maha Kuasa untuk dikabulkan. Aku seperti serdadu yang ragawi dan moncong senapannya menembak tanpa komando ke sisi tergelap akibat bisu, kelu, beku yang seolah batu.

Satu angka yang masih tertinggal disangkar batuku, adalah ketidakacuhan minatmu yang terus merangsangkan pengharapan yang sungguh sederhana. Kalau kelak aku kembali, sambutlah dipelataran, kau bersihkan bilik dan koridor kecil yang berada di samping emper kedua, dimana terdapat tiga pijakan tangga, sebelum aku sampai ke dalam keabsahan upacara jamuan makan malam, untuk menuntaskan makna rindu.

Tanganku akan silih berganti dengan intuisinya mengisi dalih tentang ruang pengembaraan yang memancarkan sinarnya yang tak henti-henti. Sekali pada kesempatan itu aku kan menjadi kekasihmu yang lain dari yang pernah kau jumpai.

Seolah memanglah demikian warna mawar terang ditundukan oleh sergapan tahun-tahun yang lewat. Dan rindu yang bertemu akan mati meluruh terbawa angin, dilarungkan sungai-sungai, melewati dari satu propinsi ke propinsi, terjatuh ke tanah, terbawa ke laut dan terdampar di tepi pantai yang bertuan pada sukma kita.

Ya, sayangku, di petak pulam terakhir, atau pohon-pohon cemara maut, atau taman yang membasah dengan gerumbul mawar beranjing warna bulan, atau di negerimu yang tandus dan gersang, cinta dan rindu hanya kemayaan dan ilusi yang senantiasa membuntuti permainan yang diperankan Adam dan Hawa untuk menangisi dan menertawai seisi maut dan pagi. Tetapi aku sudah berjanji dihadapan Borges, orang tua yang penuh kehormatan dan kebinggungan itu, bahwa aku akan menikahimu kalau sepotong cinta yang kita punya mampu mencapainya.

Ingatlah itu selalu Cintaku!

Asrama Mahasiswa Unibraw, September 2005.

Catatan:
Tulisan ini sengaja dibaurkan dengan Labirin Impian (LKiS, 1999), sekumpulan tulisan Jorge Luis Borges, seorang perintis gerakan sastra Ultraismo (yang mengandalkan pemadatan metafor secara ekstrem) di Spanyol, yang di terjemahkan dengan sangat mengesankan oleh Hasif Amini, seorang anak muda yang berbakat, agar suatu hari ada yang mengkhotbahkan pada saya tentang copyright dan segala tetek bengeknya, dan sebagai upaya untuk menunjukan satu proses kreatif (atau tidak kreatif) bukanlah hal yang sakral lahir dari tabungan milik sendiri, dan kenyataanya saya (mungkin juga kau) tidak bisa berdiri sendiri tanpa kerja kolektif. Dalam praktek sastra di negeri Tlön tidak ada istilah plagiarisme, karena sudah ditetapkan, dimaklumi, bahwa semua karya adalah karya seorang pengarang, yang anonim dan baka. Kita tak lebih hanya kritikus yang memantulkan impian pergarang itu, dan menciptakan pengarang sendiri, kalau kau tak percaya buka halaman 34 pada paragraf kedua.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.