Selamat Paskah, Istriku!

Bercak merah dalam setangkup roti sisa perjamuan yang bertahun-tahun lewat. “Ini sudah Paskah lagi,” katamu. “Dan sekolahku tak juga rampung.”

“Ini Paskah pertama kita di tenda ini,” kataku mengalihkan fokusmu. “Udara besok cerah dan aku akan mengantarmu ke gereja.”

Tapi udara di sana mendung. Ketika darah itu menetes untuk penebusan dosa. “Aku tahu itu,” kataku. “Seperti Borges bilang: tak adil rasanya seorang lelaki yahudi mesti merelakan diri menebus ketidak patuhannya di satu taman.”

Lalu kau diam–seperti sedang sedih, pada tempat yang tak dapat aku menjangkaunya. “Terang itu sampai hari ini masih di dadaku,” katamu.

Aku juga diam dan berpikir,”Dan anyir darah itu sentosa menetes. Menuju kesetiap lubuk yang pernah berlubang. Jauh seperti itu pada tahun-tahun yang akan datang.”

Nah, nikmatilah Paskahmu yang seputih telur ayam kampung itu.


About this entry