Anna Karenina
Hampir dua bulan waktu yang saya butuhkan untuk membaca Anna Karenina. Wah, payah saya ini–lelet banget. Kalau membaca saja saya butuh waktu selama itu, berapa lama ya Leo Tolstoi buat menulis novel segemuk itu? Tahunan kali.
Dua jilid yang melelahkan. Adegan yang paling saya suka adalah ketika si Levin berburu: itu membuat saya teringat semak jati, anak-anak menjangan dan juga kambing-kambing saya yang habis buat ongkos masuk kuliah dulu.
Akhir cerita memang mengharu biru. Saya heran kenapa kematian tokoh kita–si Anna Karenina justru pengambarannya lewat ibu mertua yang tak mengakui sebagai menantu. Setelah Anna melempar diri ke roda kereta saya duga detail itu akan penulis ungkapkan lewat sang tokoh sendiri. Tapi halaman dugaan saya memang sudah tak mencukupi. Ya, ternyata hanya di tulis selintas. Lewat rungkuh rangkum kebencian mertua.
Sebuah akhir yang sedih memang. Tapi jika Anna hidup di jaman kita ini–mmh, tentunya ia akan punya lebih banyak pilihan.
Orang-orang itu saya kira memang terlanjur jenuh dengan dirinya sendiri. Itu mengapa novel ini, jika berada di jaman ini terlalu sedih.
About this entry
You’re currently reading “Anna Karenina,” an entry on sebiannento
- Published:
- Maret 27, 2009 / 2:05 pm
- Category:
- Poets
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]