Malam Juak

Saya mendengar napasnya yang lembut. Hampir pukul 12, dan malam semakin terasa jauh. Saya belum bisa tidur. Bintang semakin banyak tumbuh di luar. Dalam hening sempurna itu—sehelai daun jambu biji lepas dari tangkainya. Berbareng dengan gerak awan yang putih dalam benerang. Waktu terasa dapat menyapa, lalu menyepahmu keluar dari mulutnya yang biru.
Malam seperti sedang membenarkan Chairil Anwar, berjalan jauh sampai ke bintang-bintang dan gunung. Dalam sunyi tuan tak hendak menolak diri. Hari yang selesai lepas—tulang dan otot yang terus resah, mimpi yang terus patah dan gelisah. Api cinta yang terkadang padam—hehe. Mencari sumbu lilin baru untuk dinyalakan—masih belum juga dinyatakan.
Seorang istri yang berisi hampir empat bulan. Masih sering mual. Dan malam membantunya berkemas—sebelum esok yang sembunyi. Hehe. Dibuka dan ditutup napas deru. Dan bintang makin jauh ke gunung-gunung malam.
Bertambah pulas ia nampaknya–awan dan terang itu semoga juga sampai dalam tidurku dan dia.
About this entry
You’re currently reading “Malam Juak,” an entry on sebiannento
- Published:
- Maret 16, 2009 / 5:23 pm
- Category:
- Poets
- Tags: