Potret dan Mungkin (Juga) Doa

Kalau ini pengelanturan saya yang lain. Tak sadar kok bisa ya dulu mengerajin kata sekonyol ini. Wah, mengelantur saya ini. Kemarin istri saya tanya,”Mas, kok nggak pernah nulis puisi buatku?” Saya jawab sembrono,”Halah, cari makan aja sulit, kok pakai nulis puisi” Nah, benar-benar tidak nyambungkan. hehe. Lebih enak kan baca sajaknya Joko Pinurbo, biar bisa ketawa-ketiwi.

Potret Tua Itu Tergeletak di Bangku Taman

Aku menunggu kesetiaan dari sebuah bola lampu
Yang benerang di taman
Lima meter dari milikmu, potret tua itu tergeletak
Seperti jenazah, dengan rangkaian bunga pita hitam
(Kado buat ulang tahun ibumu)

Seorang anak dengan suara iklan televisi
Memintalkan kata yang berbau demam dan rumah sakit
(Arus bangkai mengalir dari mulutnya menuju mulutku)

Aku menunggu kesetiaan dari bola lampu
Yang benerang didalam matanya; sepasang mata tua
Untuk nanti kubungkus kearah lima menit
Menuju bibirmu
(Kado buat ulang tahun ibuku)

Pondo Asih, 15 Agustus 2005

Pergi ke Kebun Bersama Ibu

Kebun tempat kita bertanam
Menyemai harum matahari
Tak lagi kupu-kupu hingap kemari
(Lalu kemana pergi kebahagiaan)

Kita masih mengingat
Percikan rindu yang mengalir
Dari suara gayungmu yang tumpah ketanah rekah
(Tetapi kini lembayung gosong dan menjadi piatu)

Ibu, sungguh aku tak tahu
Mengapa kembang yang kita petik tadi pagi
Begitu tergesa-gesa saja melayu
(Adakah pesanmu tak sampai padaku)

Andai kau tahu
Sekali masih bisa kita ulang
Pergi ke kebun menyemai bau matahari
(Tapi kini aku terlanjur piatu)

Pondopo Asih, 3 Agustus 2005

Tangkai Waktu Kampung Halaman

Aku kehilangan sayap
Pulang membawa peluh ke rumahmu
Sejarah seperti bayangan tubuh terpacak
Diam di dinding

Lalu raut wajah ibu kita mendekat
Seperti pintu dan jendela membawa angin
Membawa cakrawala

Di sudut kamar, dingin kita menginggat
Langit dan semu rembulan
Seperti penjaga peraduan yang mulai rabun
Oleh waktu

Aku pergi, Kembali pada musim yang sengit
Meminjam parang untuk menebas petang
Agar nanti ada yang kubawa sebagai tembang ke kampung halaman
Sebagai biji kenangan, moga tak hitam

PendopoAsih, 15 Agustus 2005

Potret yang Sore Itu Terbakar

Sewaktu berdua kita tinggal sebagai piatu
Di kebun sana buah pala baru usai lugur
Jarum waktu tengadah menyandarkan
Bulu-bulunya yang halus pada kerling bintang yang jauh

Kearah lehermu sebuah simpang kecil menyala
Kata pengelana ibu kita baru saja lewat
Membawa kitab-kitab tua dengan kening demam
Dan bibir berlumut debu

Suaramu berlari sepi di dalam kaca
Yang sering di pakai ibu berias
Ada ribuan jarum lancip diujungnya

Aih, kau maunya bersedih saja
Tinggalkan itu mari bercinta, katamu

Lalu kita bersepakat menyusul ibu
Yang sedang membangun ranjang di kota tua
Agar tetap dapat tercecer piatu seperti kita

Aih, lupakan kita tak selalu menderita
Dunggu itu sudah semenjak lama

Pendopo Asih, 2005

Doa di Tepi Kolam

Seseorang menyalakan lilin di tepi kolam
Bayangan wajahnya bidadari bertubuh ringkih dan lesu

Sukma, ia perempuan yang mengenakan
Selendang punya ibumu dengan sorot mata
Penuh bayang-bayang yang mencari tepi dari demam

Igauanya panjang sampai ke telinggaku
Dapatkah aku meminjam ranjangmu untuk
Menidurkannya sebelum bait napas itu usai

Oi, dia sedanng berdoa
Lihat dia tengadah dan tersimpuh
Dalam sorot dingin sang bulan

Aku yakin segera ia akan
Menitikan air mata seperti ibu dulu
Menyebut nama kecil kita satu demi satu

Tuhan yang maha rahim, jauh sudah kita
Menginjak batang hari miliknya
Meludah dan buang tai dihalaman suci
Merapas senyum yang mesti kekal dibibir
Membuat peyok mulut dan pipi yang dipunyainya

Seseorang menyalakan lilin di tepi kolam
Bayangan wajahnya bidadari bertubuh ringkih dan lesu
Seraya ia tekun tenggelam dalam doa
Dalam doa!

Pendopo Asih, 2005

Lagam dari Utara Buat Bunda

Aku merasa teriris setelah mendaki
Bebukit juram dan sesampai di puncak
Kau hanya hadir bersama demam
Dan igauan yang bertambah panjang

Kau, Bunda, yang menatap nanar
Keluar jendela dan senja memalsu
Kartu sejarah buat anakmu yang bermulut
tak mampu terkatup menerawang bebintang malam
Seperti penyakit wabah yang menjadi hantu
Dirongga-rongga tua saat kau tahu
Usia sejarah, yang dingin dan panjang itu,
Pun hanya sekedar risalah lapuk yang tak dijagai
Dan menetap serupa lubang yang berulang menuju matahari pagi
: mesin dan anak-anakmu yang tak berarti

Aku abai Bunda, mendaki bebukit juram
Sementara kau berdiri disisi yang jauh

Bila kupotong tangan kiriku untuk
kusambung pada tangan kananku
tentu kau kembali dapat kudekap
serupa kangenku yang bisu membiru

Bunda, kini yang tinggal
Hanya sayup katamu yang tak lagi terbang
Sebab sayap-sayap cahaya telah padam dan pecah

Rahasia terakhirmu itu tak teraih;
Bila ujung hidungku menyentuh ujung kakimu
Dengan linang air mata raya

Aku melayang dan kehilangan debar
Seperti terjun kejurang hampa!

Pendopo Asih, 2005


About this entry