Obituari Kuda dan Buah

Ini beberapa puisi yang saya tulis dulu ketika masih jadi seorang mahasiswa dan masih aktif di Kedai Sinau Malang.
Lama saya tak pernah menulis puisi–karena memang sudah tak bisa lagi melakukannya.
Ya, siapa tahu ada yang nyasar mampir kemari, sebab temanya masih sama soal bukan Adam dan bukan sebongkah batu. hehe.

Obituari

Aku berbincang tentang mati
warna-warna melembut, berberai
dan terhapus:
menakjubkan!

Tubuh ayahku membayang
mengambang di pinggir pikiran:
terbujur menuju untuk tidur sentosa

Berdoa dan bersujud
wajahku merajuk dan pucat:
riak tak berhingga di kegelapan!

Pada alas tidurnya
air mengenangi badan:
mengelombang!

Terus ia dibawa pergi
Jombang, 8 Maret 2001

Obituari (2)

Upacara ini terlalu senyap
rakit bambu itu diturunkan
Nuh terbenam ke tanah keramat
Aku mencium jejak petualangan
secercah sinar yang mulai dipadamkan
Ingatan seperti kantuk yang berjalan
lambat dan santai
Berkeliling dusun dan menginap
di rumah sepi tak berpenjaga
kemudian lekas-lekas pulang
berdandan sekedar berkencan dengan waktu
Hati-hati, jangan terburu-buru
Sekonyong dia berdiri di suatu simpang
semua kukembalikan kepada traktat dan doa
Dentang jam dan alunan musik
rahasia menuju sisa grafitasimu yang lepas
Cukup buat apa dibuktikan
waktu tak pernah keliru menjelmakan semesta
upacara ini terlalu senyap
pencarian telah usai
dari debu kembali debu
2001

Kamaratih

Suasana rumah tua ini sudah lama kehilangan
barang-barang yang membawa riwayat sakit
dan keterpisahan paling perasa
melarut seperti gula, perlahan-lahan yang seolah itu
perjumpaan kembali dengan ilusi
Di jendela yang sudah tak berjeruji tertera
pencarian ini tak mungkin dan sia-sia
Bertahun-tahun lalu seseorang membaca
semua akan binasa dan mungkin sirna bersama
Tak seorang pun yang melihat wajahnya yang tersembunyi
tercela dan luluk-lantak, yang masih menyimpan
belas kasih dan setitik bahagia
Kesetiaan dan kemujuran membuatku kini
sedang menunggu dia
Bagiku kehidupan yang tak tersurat dimana pun ini
pada apa pun juga: Hanya orang itu dan patung-patung
anjing di beranda yang mengerti!
Sebongkah batu dengan mudah diduga
dengan diam sempurna, justru paling memahami
Tanpa pernah tersiksa dengan terus berbaring kaku,
angkuh dan penuh isi
Sejenis kesendirian dan kebesaran yang mengetarkan
Tak pernah cukup terkejut atau tergoda mengabtraksikan apapun
Sedang dia, jejak yang terus kupuja
Dalam ziarah penuh curiga dan marabahaya
Sempurna menembus ranjang paling rinci
sepatah kata seorang tak dikenal, ulangan matahari
terbenam di dalam mimpi, nyalang mata dan
setangkai bunga lavender yang menyendiri ngeri
dan telah mati
Ya, dia dewi yang meliputi semesta rayaku
terus kutunggu sampai jadi sebongkah batu
2004

Air dan Buah

Dari tidurku
bersumber air dan buah
Malam bercabang
kian tak menentu
Aku seolah membaca ulang
kekhawatiran
seolah melangkah ke arah
ilusi yang sakit dan ajaib
Terus berjalan
mendekat dan melewati
api yang nista dan gerhana yang dusta
Air dan buah
kujumpai setitik kekekalan
di dalam rimba dan rawa-rawa malam
Kian kabur
aku berdusta dan bermimpi
malam bercabang
tak terkira mencapai pagi
2004

Setelah Bom Meledak
–buat Keta dari Goenawan Mohamad
Runcing ranting
dari pohon-pohon bambu
berdetak di luas padang
Roh jahat baru di lepas
gerimis bermain dan serasa kecut
tak bisa diabaikan dan dipahami
Rusuh mengilhami
kecemasan yang merata
buru-buru sejarah jadi sangsi
hari ini seperti tak beralamat
seperti tak beribu
Ajalku jadi segala
tergantung dan terjekik
mengusik lamunan
lelah dan mengamuk
Runcing ranting
dari pohon-pohon hayat
berdetak di luas padang
benih di tebar
dan kita menuai gagal dan lalai
2005

Taman dan Seekor Kuda

Kuda dan batu
merangkak dan letih
“Mustahil menjelajah
liku-liku taman ini”
Sedikit harap
seketika berdiam diri
Barangkali sosok seorang teman
yang mendekat
“Aku lelah berdoa dan berzina”
Dia bukan Adam
tapi sebongkah batu
Daun dan warna menara
pun padam
lalu matahari diturunkan
dihadapan seekor kuda
dan sebentang taman
“Aku lelah…”
2005

Bahaya Kecil

Nyaris bahaya kecil itu
mengakhiri ketaatan logika
yang selalu cemas dan miskin
yang elok sekaligus renta
yang acuh dan abai
yang pilu dan memalukan
Bahaya kecil yang terlihat suci
seperti anak lembu di saat fajar
berlari dan dipancung karena mencuri roti
Ya, kita sungguh
tak mengenal kegembiraan
yang mendadak raib
yang terpuruk
Bahaya kecil
yang membuat gelap sempurna
saat diri memadamkan
lilin yang mulai redup di hati
2005

Tentang Riwayat

Sepanjang gelap
kita tinggal di kedai
atau kembali ke taman
Jauh sepotong kata
menunda firasat yang bakal tiba
Pembicaraan atau lamunan
mengusik kembali kematian
antara benci dan rasa takut
Di ruang kecil itu
Kita menafikan
riwayat hidup yang anggun
dan kejam
Masa muda berjatuhan
berkelana di antara rak-rak buku
mengurai yang pernah hilang
atau justru mengorek luka
Atau di padang itu
jiwa kita terlanjur lama
kalah dan terkutuk
Sepanjang gelap
riwayat tak bisa menyangkal
yang selalu kabur seperti bayang-bayang
2005

Gedung Batu

Engkau berjalan menyeberang kearah gedung batu
Aku memuja tangan seorang yang tak di kenal
Di figura tua itu kakimu mencatat
dan menginggat
Arus yang menghukum mati
cinta yang besar dan padat
Aku merinci kembali yang lemah
kata dan tindakan yang lekas
saling mengenal yang paling tak jelas
Mungkin saja langkah itu
justrus tiap gerak-geriknya
akan mengucurkan
darahmu kembali
merapat ke gedung tua
2005

Matahari

Sorga, sebentang rawa yang jauh
rahasia di dalam kitab
Masihkah dia tertidur
seorang mengemasi mimpi
mendapati tangan-tangan api terulur
Kadang di seberang terdengar
tangan dan kaki berderap
mengapai bongkahan
bebatu yang mengabu
Aku mendapati
luka dan terbakar
di dada
2003

Penari Itu

Di dalam gelas malam itu
sepasang pengatin lelah bercinta
dan tertidur
Tangan dan kakinya memanjang
mengalir dan terulur
mengenangi lembah
Sedikit malu-malu
kukecup bibirmu
dan membiarkan tubuh kita
rebah seolah penganti itu
Lalu, sejarah berderai
seperti hujan menari
menunggang sepi
di dalam gelas!
2002

Daun yang Tertinggal di Stasiun Tua

Tanganmu yang tenggelam di dalam air
Mengisahkan betapa panjang dan deras
Waktu memperanakan peristiwa
Daun mengering yang pulang pada bumi
Jenasah yang rebah diambang cuaca
Pikiran dan bayangan yang terus lantang menyeberang
Sepanjang malam
Dengan berulang tenggelam di dalam kelam
Aku tertinggal diruang yang menyambungkan
Antara mimpi yang pahit dan kenyataan yang berbenalu
Berjalan bersama bocah yang terlanjur takut
Dan terluka oleh berderet nama, yang saling berbaur
Dengan karat yang tumbuh di engsel nista
Mereka, seperti halnya diriku, tercenggang
Akibat tak sanggup mengerti igauan
Yang terbang di bibir-bibir angin
Sayang, kini tanganmu yang tenggelam
Didalam air, mengisahkan betapa kita
Tak pelak tinggal di stasiun tua yang redup
Hanya menunggu angin!
PendopoAsih, 22 September 2005


About this entry