Bayangan Sebuah Hari

Ia masih tetap membayangkan ini: sebuah beranda belakang yang dipayungi lembayung langit senja. Sementara ia sedang tekun menyelesaikan naskah dramanya si Sebi kecil beberapa jarak jauhnya sedang belajar mengambar sepasang rusa dengan latar sebuah hutan jati.

Tentu sore seperti itu adalah sore yang indah. Si anak dan lembayung langit itu bagaimanapun merupakan keindahan yang istimewa. Jika hujan kemudian turun ketika langit berubah petang—ia telah punya bekal sebuah dongeng. Tentang sebuah lampu, sepasang rusa dan sebuah rumah. Iya, sebuah naungan yang menyimpan kursi dan meja, ranjang dan makan malam. Sebuah kehidupan hangat yang diimpikan setiap orang.

Maria, istrinya yang cantik itu, muncul dan telah selesai berdandan. Ia tampak segar selepas mandi. Ia mendekat pada si Sebi kecil, setelah menciumnya. Ciuman yang disukainya tanpa mengalihkan diri dari naskah yang belum rampung itu.

Sebi kecil barangkali nanti ingin menjadi seorang pelukis. Bukan memilih menjadi sebongkah batu dari pada menjadi seorang Adam. Seperti dirinya.

Makan malam itu yang ia bayangkan. Kesederhanaan yang berulang setiap hari tapi tak kehilangan rasa untuk tetap istimewa. Ia dan Maria akan mencoba terus merawat momen yang memang remeh, yang intim, tampak jelas akan segera terlindas waktu, yang terjadi diantara mereka.

Barangkali itu yang orang katakan: rasa syukur itu!


About this entry