Adam Bukan Sebongkah Batu
Di depan pintu rumahku sudah aku tempelkan: “Aku bukan Adam tapi sebongkah batu.” Tapi jika ada puisi yang seperti ini rasanya menyesal juga jadi sebongkah batu. haha.
Ditulis oleh Mardi Luhung, penyair dari Gresik itu, aku temukan di Kompas, Minggu, 28 Desember 2008. Di beranda rumahku, di dekat taman Golgota.
Seperti Adam yang Bersepeda
Sepeti Adam yang bersepeda, aku juga bersepeda di pantai.
Sepeda besar, ban besar dengan tuter yang berat dan
gebung. Yang jika dipukul bergaung dan menembusi
setiap yang telah dan akan dilalui. Membukai arah-arah
yang baru. Seperti sepeda Adam sepedaku juga berwarna
ungu. Dan setiap terkayuh, jejak bannya menggoresi pasir.
Membentuk selang-seling yang dalam. Yang kelak akan
dibaca sebagai awal huruf. Huruf di dalam setiap lelukan
lidah. Dan seperti Adam yang turun dari sepedanya, aku
juga turun dari sepedaku. Menghampiri tepi pantai.
Memasang umpan. Lalu melempar mata pancing.
Seloroh gertak akaran dan karang: Apa yang hendak kau
pancing? Jawabku, sama seperti jawaban Adam: Aku ingin
memancing Eden. Memang, setelah pengusiran dulu, Eden
terus ditenggelamkan di pantai. Dedasaran menyimpannya
di suatu ceruk. Yang kata kabar dari entah: Akan
menyembul jika dipancing. Dipancing tepat matahari
sampai geser dan angin berhenti di sudut. Tapi anehnya,
waktu tepat matahari sampai geser dan angin berhenti di
sudut itu, juga seperti ditenggelamkan. Lenyap dalam
keabadian. Jadinya, meski dipancing, Eden tetap tak
menyembul. Pantai tetap tenang. Penuh rahasia. Hanya
degup sendiri yang terdengar. Dan keluhku, sama seperti
keluh Adam: Jika memang tak bisa dipancing agar
menyembul, maka aku akan meminta langsung. Ya, aku,
seperti cara Adam, pun meminta dengan mendongak ke
langit. Mencari-Nya. Mengintai-Nya. Tapi, adakah Dia
melintas atau mengerling? Akh, seperti Adam yang
kembali bersepeda, aku juga kembali bersepeda di
pantai. Bersepeda sambil mendongak. Sesekali mengayuh.
Sesekali memukul tuter. Dan sesekali mencari: Di mana
Dia melintas, menyeret Eden. Dan di mana juga Dia
mengerling, mengembalikan yang terusir.
(Gresik, 2008)
About this entry
You’re currently reading “Adam Bukan Sebongkah Batu,” an entry on sebiannento
- Published:
- Desember 30, 2008 / 1:42 pm
- Category:
- Poets
- Tags:
- Adam, Mardi Luhung
2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]